Menu Atas

Iklan

iklan

Peranan dengan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan

Sulthan Blog
Selasa, 17 Januari 2023 | Januari 17, 2023 WIB Last Updated 2023-01-18T01:40:04Z

Peranan dan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan

Hohoho, bertemu kembali, artikel ini akan menjelaskan mengenai makalah tentang pendidikan Peranan dan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan simak selengkapnya.

Peranan dan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam adam manajemen/organisasi, termasuk administrasi penddikan, manusia melahirkan anasir pertama yang harus ada. Hal ini bukan saja akibat manusia melahirkan makhluk yang amat sempurna, bukan kembali akibat manusia ada rasio, yang membedakannya dari makhluk lainnya.

Manusia sebagai anasir pertama pada manajemen/organisasi akibat unsur-unsur lainnya yang dimiliki oleh suatu organisasi bagai modal usaha, bahan baku, mesin-mesin, cara kerja, waktu, dan kekayaan lainnya cuma dapat memberi arti bagi organisasi jika manusia mendayagunakan. Dengan kata lain, manusia adalah sebagai perencana, pelaksana, pengendali, pengontrol, pengevaluasi, dan pengembang sekalian acara organisasi. Karenanya, intensitas keberhasilan organisasi bergantung pada kreativitas manusia yang siap pada organisasi itu sendiri.

Sebagaimana ajaran Sudjana bahwa: “Faktor manusia melahirkan anasir pertama pada manajemen, termasuk pada organisasi. Organisasi pada dasarnya adalah suatu alat yang efektivitas kegiatannya bakal sangat ditentukan oleh anasir manusia yang menyandang tugas-tugas organisasi atau sebagai pelaksana aksi organisasi. Unsur-unsur lain pada organisasi bagai fasilitas, alat-alat, waktu, metode, dan cara aksi didayagunakan ala optimal oleh manusia yang berada pada organisasi atau orang-orang yang berkaitan dengan organisasi. Dengan bicara lain, bahwa kemantapan aksi dan keberhasilan suatu organisasi sering tidak ditentukan oleh lengkapnya anasir non-manusia dan bangun organisasi. Melainkan bakal sangat ditentukan oleh anasir sumber daya manusia yang berkujut pada organisasi itu sendiri”.

Tanpa adanya manusia, sebuah organisasi tidak bakal berjalan begitu juga mestinya, akibat manusialah yang jadi penggerak organisasi tersebut. Berdasarkan fungsi penting manusia pada aksi manajemen, khususnya administrasi pendidikan, cerpenis bakal berbalah lebih berbelit-belit mengenai peranan dan kedudukan manusia pada administrasi bimbingan berbasis al-qur’an dan hadist.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa peranan dan kedudukan manusia menurut al-qur’an dan hadist? 
  2. Apa peranan dan kedudukan manusia pada administrasi pendidikan?

C. Tujuan Penulisan

  1. Ingin melihat apa peranan dan kedudukan manusia menurut al-qur’an dan hadist. 
  2. Ingin melihat apa peranan dan kedudukan manusia pada administrasi pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Peranan Dan Kedudukan Manusia Menurut Al-Qur’an Dan Hadist

Al-Qur’anul karim sebagai kitab suci kaum muslimin antara lain berfungsi sebagai “hudan” sarat dengan berbagai petunjuk biar manusia dapat jadi khalifah yang baik di muka bumi ini. Untuk memperoleh petunjuk tersebut diperlukan adanya pengkajian akan al-Qur’an itu sendiri, sehingga kaum muslimin benar-benar bisa memetik arti yang sebesar-besarnya dari pada isi kandungan al-Qur’an tersebut yang di dalamnya berbelit-belit berbalah permasalahan-permasalahan yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang belum terjadi. Semua hal yang berkaitan dengan aktivitas manusia, maupun keberadaan angkasa ini sudah termaktub pada al-Qur’an. Termasuk permasalahan mulai dari asal kejadian manusia, berbatas pada aktivitas yang dilakukan manusia pada hal ini tentang Manajemen Pendidikan, hal tersebut sudah tertulis di pada al-Qur’an.

Menurut kodrat bersama irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk jadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia mula-mula dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Al Baqarah artikel 30 yang Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada getah perca malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak melahirkan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak melahirkan (khalifah) di bumi itu orang yang bakal melahirkan kerusakan padanya dan menumpahkan darah, sedangkan kami berkelaluan bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku melihat apa yang tidak kamu ketahui."

Allah mengadakan angkasa semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia ada alamat yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau administrator (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah biar memakmurkan aktivitas di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam).

Allah SWT jua mengadakan manusia di muka bumi biar manusia dapat jadi kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk jadi administrator yang mengatur apa-apa yang siap di bumi, bagai tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memakai sekalian apa yang siap di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia menduga mampu melaksanakan itu semuanya alkisah sunatullah yang melahirkan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, lebih-lebih manusia yang beragama kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Menurut Bachtiar Surin yang dikutif oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Khalifah berarti calo atau pemimpin yang diserahi untuk meluluskan atau mengajar sesuatu”.

Ibnu khaldun mendefenisikan khalifah memiliki dua desakan kemaslahatan adam dan akhirat. Dalam ahad sisi pemimpin melahirkan pengganti kepemimpinan yang beroleh mandat dari langit setelah rasul tiada. Sedangkan pada sisi yang lain, pemimpin (khalifah) mengatur manusia di bumi.

Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, siap dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia berbatas hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, melantan bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).

Manusia ada ayahan kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya anak Adam manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati ala benar dan merata, dengan ajek menjaga kekayaan biar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.

Melihara bumi pada arti luas termasuk jua melantan akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, adalah merusak dan menghancurkan angkasa demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang bedah bakal sangata potensial merusak alam. Oleh akibat itu, hal semacam itu harus dihindari.

Mengapa Allah memerintahkan anak Adam rasul Muhammad SAW untuk melantan bumi dari kerusakan? Karena aktual manusia lebih berjibun yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia bakal cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah berjalan pada abad rasul – rasul dini rasul Muhammad SAW dimana anak Adam getah perca rasul tersebut lebih aman berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum anak cucu Israil, bagai yang Allah sebutkan pada firmannya pada surat Al Isra artikel 4 yang artinya: 

Dan Telah kami tetapkan akan Bani Israil pada Kitab itu: "Sesungguhnya kamu bakal melahirkan kerusakan di muka bumi Ini dua kali[848] dan absolut kamu bakal menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".

Manusia menduga dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada abad kini ini saban individu bangkit bakal pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk mengajar anak Adam manusia yang semakin besar jumlahnya bersama komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang memaksa kepada saban anak Adam manusia untuk mencari ilmu. 

Dengan begini upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan alamat bimbingan tidak bakal tercapai ala optimal minus adanya administrasi atau manajemen bimbingan yang baik, yang selanjutnya pada aksi administrasi bimbingan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki daya untuk jadi seorang pemimpin.

Sebagai seorang khalifah atau pemimpin, siap beberapa ajaran yang harus diketahui:

1. Amanah (Jujur)

Dari aksi amanah inilah lahir seluruh prilaku dan aksi yang sesuai dengan perintah Allah yang dilaksanakan getah perca pemimpin bimbingan yang alpa ahad contohnya adalah prilaku pemimpin bimbingan yang bersikap adil. Artinya, antara prilaku amanah dan benar melahirkan dua hal yang baku terkait.

2. Adil 

Al- benar melahirkan alpa ahad dari asmaul Husna, acu kepada Allah sebagai pelaku. Asas keadilan harus benar-benar dijaga biar tidak ada stigma-stigma ketidakadilan bagai kelompok kecil dan lain-lain.

Seorang pemimpin badan bimbingan harus benar-benar benar pada memberikan proporsionalitas menanggung mencecap jawab dari segi kuantitas maupun bobot yang disertai dengan keikhlasan pada melaksanakan tugasnya dan jua adaptasi tingkah lakunya dilandasi dengan angka etik-quranik.

3. Musyawarah (Syura) 

Musyawarah melahirkan alpa ahad ajaran pada berorganisasi yang harus dibangun antara pemimpin dan yang dipimpin. 

Pemimpin bimbingan harus melakukan aktualisasi fungsi administrasi dengan dasar keramian antar komponen badan bimbingan dengan melakukan 3 garapan administrasi bimbingan yaitu: (a) administrasi material, adalah aksi yang menyangkut bidang-bidang materi/benda-benda, bagai ketatausahaan badan pendidikan, manajemen keuangan, gedung, dan perlengkapan abah-abah badan bimbingan lainnya, (b) administrasi personal, mencangam di dalamnya manajemen personal dosen dan pegawai badan pendidikan, jua manajemen murid, (c) administrasi kurikulum, bagai tugas mengajar guru-guru, penyusunan silabus atau rencana pengajaran tahunan, persiapan harian, mingguan dan sebagainya. 

4. Etika tauhid dan amr ma’ruf nahi munkar 

Prinsip adab tauhid yang jadi pegangan baku pemimpin bimbingan bakal berimplikasi pada aksi melindungi komponen bimbingan dengan manhaj pemimpin bijaksana, adalah amanat ma’ruf nahi munkar.

Kepemimpinan yang ideal cuma siap pada kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang mendorong anak Adam untuk terus melakukan gajak ma’ruf dengan mencintai ilmu pengetahuan. Konsep kepemimpinan ini mampu diterjemahkan oleh getah perca khalifah sesudah era Nabi Muhammad yang alpa ahad contohnya adalah kemajuan peradaban islam dengan ilmu pengetahuan.

Bahkan ketokohan dari kepemimpinan Nabi Muhammad mampu melanting perkembangan Islam pada era yang gemilang. Ketokohan Nabi Muhammad ini melahirkan sisi yang harus diakui akibat tiga hal sebagai berikut. Pertama, masyarakat arab pada abad ke-7 mendengar dan mengikuti seruan rasul Muhammad. Kedua, pada perbandingan dengan politeisme yang sangat kebendaan dari agama-agama kesukuan arab lama, agama anak buah menduga dinaikkan ke tingkat yang sepenuhnya baru, tingkat suatu agama adiluhung yang monothoistik. Ketiga, orang-orang Islam melegalkan inspirasi, keberanian, dan kekuatan Nabi Muhammad yang tidak habis-habisnya untuk alamat agama baru: sebuah permulaan  mengabah kebenaran lebih besar dan pemahaman lebih dalam, mengabah sebuah terobosan kebangunan kembali bersama alih generasi kehidupan. 

Jadi kepemimpinan pada islam melahirkan alasan yang kasar khususnya pada ranah pendapatan alamat pendidikan.

B. Peranan Dan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan 

Menurut Nitisemito, pemahaman administrasi adalah “suatu ilmu dan seni untuk mencapai alamat dengan aksi orang lain”. Hal ini berarti administrasi cuma dapat dilaksanakan bila pada pendapatan alamat tersebut tidak dilakukan oleh ahad orang saja, melainkan dengan pengaturan aksi orang lain untuk melakukan pekerjaan yang dibutuhkan. 

Di pada sebuah administrasi siap beberapa anasir yang baku tercantel dan tidak dapat dipisahkan. Unsur-unsur administrasi tersebut adalah:

1. Man (Manusia,  orang-orang, tenaga kerja) 

Dalam aksi manajemen, anasir manusia adalah yang amat menentukan. Titik pusat dari administrasi adalah manusia, sebab manusia melahirkan alamat dan dia pulalah yang melakukan proses aksi untuk mencapai alamat yang menduga ditetapkannya itu. Tanpa tenaga kerja tidak bakal siap proses kerja. Hanya saja administrasi itu seorang diri tidak bakal timbul apabila saban orang bekerja untuk dirinya seorang diri saja minus mengadakan kerjasama dengan yang lain. Manajemen timbul akibat adanya orang yang bekerjasama untuk mencapai alamat bersama.

2. Money (Uang Yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Tujuan Yang Diinginkan) 

Uang melahirkan anasir yang penting untuk mencapai alamat disamping anasir manusia yang jadi anasir amat penting (the most important tool) dan faktor-faktor lainnya. Dalam adam modern yang melahirkan anasir yang penting sebagai alat ganti dan alat alat ukur angka suatu usaha. Suatu industri yang besar diukur kembali dari jumlah uang berputar pada industri itu. Tetapi yang memakai uang tidak cuma industri saja, instansi pemerintah dan yayasan-yayasan jua menggunakannya. Jadi uang diperlukan pada saban aksi manusia untuk mencapai tujuannya. Terlebih pada aktualisasi administrasi ilmiah, harus siap perhatian yang sungguh-sungguh akan anasir uang akibat sekalian benda diperhitungkan ala logis adalah memperhitungkan berapa jumlah tenaga yang harus dibayar, berapa alar-alat yang dibutuhkan yang harus dibeli dan berapa kembali hasil yang dapat dicapai dari suatu investasi.

3. Machines (Mesin Atau Alat-Alat Yang Diperlukan Untuk Mencapai Tujuan) 

Dalam saban organisasi, peranan mesin-mesin sebagai alat abdi kerja sangat diperlukan. Mesin dapat meringankan dan melampiaskan pada melakukan pekerjaan. Hanya yang harus diingat bahwa penggunaan alat sangat bergantung pada manusia, bukan manusia yang bergantung atau apalagi diperbudak oleh mesin. Mesin itu seorang diri tidak bakal siap kalau tidak siap yang menemukannya, sebaliknya yang menemukan adalah manusia. Mesin dibuat adalah untuk mempermudah atau membantu tercapainya alamat berjiwa manusia.

4. Methods (metode atau cara yang digunakan pada ikhtiar mencapai tujuan)

Cara, penggerakan, dan pengawasan. Dengan cara kerja yang baik bakal memperlancar dan melampiaskan aktualisasi pekerjaan. Tetapi biarpun cara kerja yang menduga dirumuskan atau ditetapkan itu baik, kalau orang yang diserahi tugas pelaksanaannya minim mengerti atau tidak berpengalaman alkisah hasilnya jua bakal ajek minim baik. Oleh akibat itu hasil penggunaan/penerapan suatu cara bakal bergantung kembali pada orangnya.

5. Materials (bahan atau abah-abah yang diperlukan untuk mencapai tujuan) 

Manusia minus material atau ramu tidak bakal dapat mencapai alamat yang dikehendakinya, sehingga anasir material pada administrasi tidak dapat diabaikan.

6. Market (pasar untuk menjual output/barang yang dihasilkan) 

Bagi suatu perusahaan, pemasaran barang yang dihasilkan sudah barang tentu sangat penting bagi kelangsungan proses pabrikasi dari industri itu sendiri. Proses pabrikasi suatu barang bakal berhenti apabila barang-barang yang diproduksi itu tidak laku atau tidak diserap oleh konsumen. Dengan bicara lain pasar murah sangat penting untuk dikuasai demi kelangsungan proses aksi industri atau industri. Oleh akibat itu penguasaan pasar murah untuk megedarkan hasil-hasil pabrikasi biar berbatas kepada klien melahirkan hal yang menentukan pada aktivitas manajemen. Agar pasaran dapat dikuasai alkisah bobot dan harga barang harus sesuai dengan air liur dan daya beli konsumen. Barang yang berkualitas aib dengan harga yang nisbi mahal tidak bakal laku dijual. Hal diatas adalah penggunaan pasar murah pada adam perniagaan. Adapun pada manajemen Negara, yang jadi pasar murah adalah masyarakat (publik) ala keseluruhan, sebaliknya yang jadi produknya adalah berupa pelayanan dan jasa (service). Apabila anak buah atau masyarakat menduga mengharapkan pelayanan yang sebaik-baiknya dari pemerintahnya alkisah anak buah bakal kembali memberikan kerjasama dengan sebaik-baiknya atau dengan bicara lain mendukungnya sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan stabil.

7. Information (Informasi) 

Tentu saja informasi sangat  yang sedang disukai, apa yang sedang berjalan di masyarakat, dsb. Manajemen informasi sangat penting jua pada menganalis barang yang menduga dan bakal dipasarkan.

Unsur-unsur administrasi di atas, dikenal dengan sebutan 6M+I , adalah man,  money,  material, machine,  method, market dan information. Setiap anasir tersebut memiliki idiosinkrasi yang berbeda, namun anasir yang amat menentukan pada proses administrasi adalah unsur  manusia akibat manusialah yang bakal menggerakkan unsur-unsur administrasi lainnya.

Manusia pada aksi administrasi dikenal sebagai manajer atau pimpinan, karyawan, dan lain sebagainya.

Peranan manajer ada akibat adanya pemberian otoritas formal berupa surat dekrit kepada seseorang sekaligus dengan status dan kedudukannya. Peranan adalah aktivitas yang harus dikerjakan atau dimainkan seseorang. Untuk melakukan otoritas formal dan statusnya.

Peranan jua dapat diartikan sebagai prilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang pada kedudukan tertentu.  

Pemimpin di pada organisasi ada peranan, saban pekerjaan melanting bersama harapan bagaimana penanggung fungsi berprilaku. Setiap manajer minimal ada tiga peranan, adalah sebagai interpersonal, informasional, dan pengambil keputusan. 

1. Peranan Interpersonal 

Peranan interpersonal meliputi akal sekolah/madrasah sebagai: (1) figurehead (kepala I kampus sebagai atribut atau symbol), (2) pemimpin (leader), dan (3) calo (liaison). Kepala I kampus sebagai lambing, beliau mewakili I kampus pada menghadiri acara-acara seremonial, melegalkan tamu, meluluskan pidato-pidato, meninjau ke sekeliling sekolahnya, mengunjugi kelas-kelas, mengenal siswa-siswanya, dan menyiapkan visi dan sebagainya.

Satu hal yang lebih penting berkenaan dengan akal I kampus sebagai lambing adalah dosen dan tenaga kependidikan dan masyarakat luas mempelajari bahwa peranan ini menentukan sukses atau gagalnya sekolah. 

2. Peranan Informasional 

Peranan informasional meliputi peranan sebagai monitor, disseminator, dan spokes person.
Peranan akal I kampus sebagai monitor, beliau mencari informasi di pada dan di luar I kampus ala konstan. Informasi diperoleh antara lain dengan kontak-kontak dengan jaringan kerja, belajar buku dan hasil penelitian, belajar Koran, dan memakai internet. Peranan akal I kampus sebagai alat pemantau mengakibatkan akal I kampus sebagai orang yang amat berjibun memiliki informasi terbaik dibandingkan dengan dosen dan tenaga kependidikannya. Sebagai monitor, akal I kampus sering dijadikan area bertanya oleh dosen dan tenaga kependidikan, orang berumur peserta didik, anggota komite, abdi negara pemerintah dan masyarakat. 

Peranan akal I kampus sebagai disseminator, beliau megedarkan informasi-informasi penting kepada dosen dan tenaga kependidikan, orang berumur peserta didik, anggota komisi dan jua masyarakat. Kepala I kampus bertanggung jawab memberikan informasi-informasi penting yang dbutuhkan dosen dan tenaga kependidikannya sehingga dosen dan tenaga kependidikannya dapat melakukan tugas pokok dan fungsinya ala professional.

Peranan akal I kampus sebagai spokes person, beliau bak seorang diplomat. Sebagai seorang diplomat beliau harus mampu berapat dengan penuh kebijaksanaan dan mampu melahirkan pendengarnya bertuah dan siap melakukan apa yang beliau bicarakan. Sebagai spokes person, beliau jua dapat berperan sebagai pemotivasi atau pengarah.

3. Peranan Decisional 

Kepala I kampus harus kreatif dan inovatif pada membabarkan sekolahnya dengan mengadakan produk/jasa pendidikan, mampu memasarkan sekolahnya biar berjibun diminati oleh masyarakat, pekerja keras yang memiliki dorongan pantang menyerah, mampu memakai dan mengadakan peluang, dan bagak memetik resiko dengan penuh perhitungan yang matang.    

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan biar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, antara lain:

  1. Dasar baku pada efektivitas kepemimpinan bukan inaugurasi atau penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain akan kepemimpinan yang bersangkutan. 
  2. Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang. 
  3. Efektivitas kepemimpinan menuntut ilmu untuk “membaca” situasi. 
  4. Skill dan Kemampuan tidak tumbuh begitu saja melainkan dengan pertumbuhan dan perkembangan. 
  5. Kehidupan organisasi yang dinamis dan asri dapat tercipta bila saban anggota mau menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai alamat organisasi.

Kepemimpinan pada bimbingan hakikatnya membabitkan berjibun stake holder yang sangat berperan penting pada kelangsungan proses ekspansi bobot pendidikan, diantaranya :

  • Kepala Sekolah : Kepala Sekolah adalah administrator bimbingan di I kampus ala keseluruhan. Kedua, Kepala Sekolah adalah pemimpin formal bimbingan di sekolahnya. 
  • Guru : Guru adalah pemimpin yang menentukan kondisi kenyamanan proses belajar mengajar di pada kelas. Guru adalah pemimpin yag mengadakan anak didik yang berkualitas.
  • Orangtua / Masyarakat : Orangtua adalah motivator peserta ajar untuk selalu hadir pada proses pembelajaran.

Sedangkan Kedudukan akal I kampus sebagai manajer bimbingan adalah pemimpin paripurna dan harus membawahi, membela sarwa sumberdaya manusia di I kampus tersebut. Dalam fungsi ini, akal I kampus adalah penanggung jawab akan aktualisasi keseluruhan proses bimbingan di I kampus yang dilakukan oleh seluruh anasir penduduk sekolah. Sebagai seorang pemimpin, wajar jika akal I kampus dituntut untuk mengupayakan aktualisasi proses bimbingan ala ampuh dan efisien. Dalam aktualisasi tugasnya, seorang akal I kampus memiliki beberapa fungsi atau fungsi penting. Selain sebagai pemimpin, peranan akal I kampus pada hubungannya dengan pendapatan alamat badan adalah sebagai manajer, sebagai administrator, sebagai wiraswastawan, sebagai penyelia, sebagai pembina iklim sekolah, sebagai pendidik, akal I kampus jua harus mampu menggerakan seluruh penduduk I kampus baik guru, siswa, orang berumur siswa, masyarakat dan sarana bimbingan untuk mencapai alamat pendidikan.

BAB III
KESIMPULAN

Manusia melahirkan makhluk yang amat sempurna dan ada nalar yang membedakannya dengan makhluk yang lain.

Menurut kodrat dan iradatnya, manusia dilahirkan untuk jadi pemimpin. Sejak adam diciptakan sebagai manusia mula-mula dan diturunkan ke bumi, beliau ditugaskan sebagai khalifah. 

Di pada administrasi pendidikan, manusia melahirkan alpa ahad anasir pertama yang tidak bisa diabaikan. Tanpa adanya manusia berarti tidak siap proses manajemen, akibat yang menggerakkan unsur-unsur administrasi lainnya adalah manusia itu sendiri.

Dalam sebuah aksi administrasi pendidikan, manusia dapat berperan sebagai manajer atau akal sekolah, di mana peranannya adalah: 1) Peranan interpersonal, 2)    Peranan informasional, 3) Peranan decisional.

Sedangkan kedudukan akal I kampus sebagai manajer bimbingan adalah pemimpin paripurna dan harus membawahi, membela sarwa sumber daya manusia di I kampus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, Umiarso, dan Minarti, Dikhotomi Pendidikan Islam: Historisitas Dan Implikasi Pada Masyarakat Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011

Hasibuan, Malayu S.P, Manajemen (Dasar, Pengertian, dan Masalah), Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan Dan Prilaku Organisasi, Jakarta: PT Rajagrapindo Persada, 2013.

Salim, Abd Muin, Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2004.

Usman, Husaini, Manejemen (Teori, Praktik Dan Riset Pendidikan), Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

http://maulidannisaa.blogspot.com/2013/09/fungsi-manusia-sebagai-khalifah-di-muka.html

http://kisahimuslim.blogspot.com/2014/09/konsep-manusia-sebagai-khalifah-allah.html

Sekian penjelasan tentang Peranan dan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan semoga info ini bermanfaat terima kasih.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Peranan dengan Kedudukan Manusia Dalam Manajemen Pendidikan

Trending Now

Iklan

iklan